Cinta, Poligami, dan Syariat

CINTA Cinta ternyata memiliki berbagai dimensi, tapi ada 2 yang paling utama, yaitu: 1. Cinta Memiliki, atau bisa disebut cinta terhadap barang. Atau cinta meminta, menuntut. Cinta ini adalah aku cinta kamu (barang) dalam artian, saya mencintai (memiliki) kamu untuk saya seorang, tidak boleh ada yamg mengambil, artinya sekarang milik saya, Dengan kata lain lebih ke ego kepemilikan, Saya cinta kamu, saya memiliki kamu, kamu milik saya, dan saya harap kamu juga mau mengikuti apa yang saya mau (sesuai dengan kemauan saya), dengan kata lain kamu juga harus mencintai saya seperti saya mencintai kamu. Sebab bila tidak maka saya akan marah, sakit hati, karena kamu tidak berkelakuan atau membalas seperti yang saya inginkan., cinta ini akan menyebabkan yang dicintai justru merasa tidak bahagia, karena ia harus bertindak seperti apa yang dimauin sipemberi cinta (sipemilik), dan bila barang (orang) yang dicintai itu melakukan sesuatu diluar keinginan sipemilik atau pergi akan menyebabkan sesuatu yang buruk seperti marah, patah hati, sakit hati dll. 2. Cinta secara sifat, atau bisa disebut cinta yang memberi. Cinta ini adalah cinta yang berusaha untuk memberi yang terbaik terhadap yang dicintai, sehingga diharapkan yang diberi akan membalas dengan memberi yang terbaik juga kepada sipemberi. Sehingga tujuan cinta ini jelas untuk membahagiakan yang dicintai tanpa pamrih dan ikhlas untuk memberikan yang terbaik terhadap yang dicintai, walaupun ia harus berkorban demi memberi kepada yang dicintainya. Dengan cinta ini orang yang dicintai tidak merasa seperti barang yang dimiliki seseorang, sehingga ia bisa melakukan hal yang ia rasa juga bisa membahagiakan sipemberi cinta tanpa merasa terikat. Dan karena pemberian itu didasarkan pada keikhlasan maka ketika sipenerima cinta berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, atau pergi kita tidak sampai marah, patah hati, atau sakit hati, karena kita sudah biasa ikhlas dalam memberi dan tidak mengharapkan balasan yang sesuai dengan keinginan kita seperti cinta memiliki diatas, karena kita tahu kita tidak ada hak memiliki, kita hanya punya hak mencintai, karena semua adalah milik Allah SWT, bukan kita, sehingga kalau yang dicintai pergi kita tidak merasa kehilangan yang kita miliki. Dari kedua cinta diatas, ada satu hal atau elemen yang tidak boleh atau malah tidak bisa dikesampingkan, yakni adanya Allah SWT Karena kita memiliki agama Islam. Agar sebagai makhluk yang beragama kita memiliki cinta yang sempurna dan membahagiakan didunia ini kita harus mengurut pemberian cinta kita yakni, sbb: 1. Allah SWT 2. Orang tua 3. Pasangan 4. Anak 5. Harta termasuk jabatan, kekuasan dll Dengan urutan seperti ini maka bila kita kehilangan semuanya kita masih tetap memiliki satu yang tetap kita cintai dan tetap mencintai kita yakni Allah SWT, sehingga kita mampu bertahan terhadap goncangan apapun karena kita tahu kita masih memiliki Allah SWT yang tetap mencintai kita. Cinta kita Kepada Allah SWT harus cinta yang memberi, karena bila cinta kita karena cinta memiliki maka bila Allah SWT memberikan yang tidak sesuai dengan kemauan kita, kita akan marah, sakit hati, dan mungkin patah hati dan menjauhi Allah SWT. Tapi bila kita biasa dengan cinta yang memberi tanpa pamrih dan ikhlas, maka kita akan tetap mencintai Allah SWT walaupun IA belum memenuhi keinginan maupun kemauan kita. Dari hal diatas ada satu hal yang bisa kita ( saya ) simpulkan secara pribadi, yakni syariat berpoligami itu juga telah kita lakukan sehari-hari, yakni kita memiliki beberapa entitas yang kita harus membagi cinta kita, yakni terhadap ke lima entitas diatas, jadi jika kita ingin bahagia, kita harus bisa membagi cinta kita dan tidak merasa disakiti bila salah satunya tidak mengikuti keinginan kita. Atau bisa juga kita harus berkorban dengan memberi terhadap salah satu dari yang diatas terhadap yang lainnya dengan ikhlas dan tanpa pamrih. POLIGAMI Banyak Syariat islam yang kita ketahui, dari perbankan hingga perkawinan. Dari sekian banyak syariat ada satu syariat yang kita lupa atau pura-pura melupakan, karena syariat ini sering kita tutupi dengan syariat yang lain, dengan kedok menghargai maupun menghormati wanita, padahal syariat ini justru menaikkan harkat wanita bila dilakukan dengan benar oleh yang mampu. Syariat itu adalah poligami yang ditutupi oleh syariat monogami. Hal itu yang ingin diangkat Aa gym dengan melakukannya dan tidak hanya menyebutkannya saja. Dengan cara ini diharapkan kaum muslimin bisa sadar bahwa poligami itu adalah syariat juga dan bila ada yang mengharamkannya ataupun menentangnya maka itu artinya ia telah menentang syariat islam, atau aturan agama yang dia anut, sama dengan ia menentang aturan syariat bahwa bunga bank itu haram, dimana sayangnya saat ini banyak yang mengaku beragama islam tetapi tetap memakan bunga bank. Poligami juga bersumber pada adanya cinta serta berkaitan dengan cinta. Dilihat dari sisi wanita terlihat bahwa bila cintanya adalah cinta memiliki maka poligami jelas akan langsung membuat ia marah, kecewa, sakit hati dll, karena yang dicintai tidak melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan keinginan sipemilik yang memberi cinta. Akan tetapi bila wanita itu memiliki cinta yang memberi, maka ia akan dengan ikhlas dan tawakal menjalaninya, karena ia sudah biasa memberi dengan ikhlas dan tanpa pamrih demi membahagiakan pasangannya, dan tidak mengharapkan apapun dari orang yang dicintainya itu, juga ia sudah biasa membagi cintanya dengan kelima entity diatas. Dengan cinta seperti itu ia tidak akan merasa sakit hati karena banyak yang tetap mencintainya dan yang dia cintai. Dan bila dilakukan dengan benar, dengan keikhlasan tanpa pamrih, maka pasangan jelas akan semakin lebih mencintainya karena ia merasa telah diberikan sesuatu yang sangat berharga, sehingga ia akan berusaha juga untuk memberikan sesuatu yang lebih berharga juga. Memang idealnya siwanita yang mencarikan atau diajak berdiskusi mengenai hal ini sehingga siwanita tahu bahwa orang lain ini, juga memiliki cinta yang juga memberi dan bukan cinta yang memiliki, tidak saja pada pasangannya tetapi juga pada siwanita, sehingga diperoleh satu lagi cinta yang juga memberi dengan ikhlas dan tanpa pamrih sehingga semakin banyak entitas yang saling mencintai dengan cinta yang memberi. Apalagi bila hal ini juga dikaitkan dengan agama maka akan terasa lengkap antara cinta, syariat dan kebahagiaan dari semua sisi. SYARIAT Satu hal yang tidak bisa kita lupakan adalah, kita hidup didunia yang memiliki aturan, agama yang memiliki syariat, Negara dengan undang-undangnya dan kodrat masing-masing. Salah satu yang terpenting didalam islam, wanita adalah dilahirkan dengan kodrat sebagai wanita yang dibentuk dari tulang rusuk Nabi Adam AS, dengan aturan-aturan agama islam, dan bila ia tidak setuju dengan hal itu, seperti kenapa hanya pria yang boleh berpoligami, ia jelas bukan saja tidak mengerti agama islam akan tetapi ia juga tidak bisa beragam islam, karena aturan syariat itu jelas dan tidak bisa diubah sesuka hati, seperti apakah sesuatu itu halal atau haram. Ia bisa memilih ia keluar dari agamanya atau ia tetap beragama islam tapi melakukan dosa setiap hari karena mengingkari dan malah menghujat sesuatu yang merupakan syariat islam hanya karena adanya emansipasi wanita hasil bentukan dunia barat setiap hari. Dari semua pemikiran diatas satu hal yang tak kalah penting yakni keterbukaan, termasuk didalam cinta dan poligami, karena dengan adanya keterbukaan semua mengetahui apa yang terjadi dan bisa mengantisipasinya dengan baik. Karena kalau sembunyi-sembunyi itu disebut selingkuh, dan walaupun oleh orang dengan cinta yang memberi hal itu masih bisa diatasi tapi akan menimbulkan citra negatif orang yang tidak jujur (pembohong) yang mana jelas itu adalah salah satu sifat yang dibenci Allah SWT dan orang seperti itu berhak untuk kita jauhi, karena wajib hukumnya kita menjauhkan diri kita dari yang dilarang maupun hal dan orang yang akan mempengaruhi kita terhadap yang dilarang itu.. Kesimpulannya, bila kita ingin bahagia dalam hidup ini, pilihlah cinta yang memberi, karena cinta seperti itulah yang
diinginkan Allah SWT, dan jalankanlah semua syariat agama islam tanpa dipengaruhi budaya barat, dan milikilah sifat ikhlas dan tanpa pamrih, insyaallah, kita akan bisa hidup aman, tenteram dan bahagia karena tidak terbebani oleh hawa nafsu amarah, merasa dikhianati, sakit hati dan semua penyakit hati lainnya, karena kita memandang semuanya dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Jangan kita ikuti nafsu amarah bila kita dihadapkan pada hal yang tidak sesuai dengan kemauan kita, karena hal itu hanya akan menyebabkan timbulnya penyakit hati yang menjauhkan kita dari agama dan Allah SWT. Jadi jauhilah cinta memiliki, pakailah cinta yang memberi.sehingga poligamipun bisa terasa indah, walahualam bisawab.

3 thoughts on “Cinta, Poligami, dan Syariat

  1. Bismillah,
    wow tulisan teteh menakjubkan!
    barakallahu fiiki!

    Jangankan Aa Gym yang sudah berumur, saya yang berusia 23 th ini tidak bisa membohongi diri sendiri.

    ya, saya sudah menikah saat berusia 20 tahun. dan sekarang mempunyai buah hati berusia 19 bulan. kami bahagia.

    walaupun demikian tetap saja saya merasa kekurangan, yaitu menikah lagi. hal ini bukan semata di dasari kekurangan biologis, bukan itu! tapi ini berbicara Cinta/ kasing sayang yang di dasari syari’at, cinta yang Allah Ta’ala beri yang mampu mencintai 1,2,3 atau 4 wanita.
    jadi fithrah laki-laki memang seperti ini, yaitu mampu beristri lebih dari satu.

    dan saya sebagai laki-laki itu akui. juga saya yakin laki-laki lainpun akui. sebagai contoh mereka yang berselingkuh (baca: dengan cara haram), mempunyai simpanan, pergi ke PSK dll.

    saat ini saya sesungguhnya ingin menikah lagi, tapi karena financial masih memenuhi satu istri dengan anaknya belum bisa untuk istri kedua.

    jika memang ada yang bersedia, dan memang ia menerima apa adanya saya sekarang ini (khususnya dalam ekonomi) maka insya Allah saya akan tindak lanjuti ,,,, demi Allah saya benar-benar mencari fithrah sesungguhnya yang ada dalam dada saya sebagai pria.

    wassalamu’alaikum

  2. PKS , Partai yang Paling Melecehkan Perempuan Indonesia

    Bicara tentang peran partai terhadap kemajuan Perenpuan Indonesia yang boleh disebut, bahkan menghambat karier perempuan di Indonesia adalah PKS. Partai ini bukan hanya diskriminatif terhadap perempuan, tetapi juga melecehkan keberadaan perempuan, sebagai istri dan ibu.
    Bagaimana tidak melecehkan? Coba lihat, mulai presiden partai, Tifatul Sembiring hingga Sekjennya Anismata, plus pengurus partainya, hampir semua melakukan Poligami. Ironisnya, saat masalah poligami dipertanyakan, dengan enteng salah satu orang DPP PKS mengatakan, bahwa pengurus PKS memang diperbolehkan melakukan poligami, dengan alasan kenyataannya , jumlah perempuan Indonesia lebih banyak dibandingkan laki-laki. Tentu saja, di luar alsan ISLAM memang mmbolehkan Poligami.
    Coba bayangkan betapa naifnya, orang-orang yang duduk di Partai yang notabene katanya berjuang untuk rakyat, tapi malah melecehkan perempuan. Bukankah perempuan itu bagian dari rakyat? Nah, kalau sampai orang-orang dari PKS yang menghalalkan dan malah menganjurkan poligami , menjadi pemimpin di negeri ini, betapa menderitanya kaum perempuan di Indonesia, karena bisa jadi Undang _Undang yang dulu melarang pegawai negeri/ABRI menikah lagi itu, akan dihapus oleh PKS dan diubah untuk “boleh menikah lebih dari satu”.
    Tak hanya itu, PKS juga partai yang tidak menghargai arti “cinta sejati” dan bahkan cenderung mengabaikan perasaan anak-anaknya. Lihat apa yang dilakukan pendiri PKS, Hidayat Nur Wahid. Belum kering tanah kuburan istrinya, sudah menikah lagi, bahkan belum hitungan setahun istri barunya sudah melahirkan. Coba bayangkan, pernah beliau ini menghitung bagaimana perasaan keluarga istri pertamanya yang sudah meninggal dan anak-anaknya yang baru kehilangan ibunya? Apapun alasannya, para kaum lelaki PKS ini sepertinya lebih mementingkan pemuasan shahwad, ketimbang menghargai perasaan manusia. Orang seperti inikah yang akan kita jadikan pemimpin? Keteladanan apa yang bisa kita tiru?
    Di luar melakukan pelecehan kepada perempuan Indonesia, PKS juga tidak menghargai eksistensi wanita untuk berkarier. Coba saja salah satau alasan PKS tidak mendekat PDIP hanya karena pemimpinanya perempuan, Megawati. Soal mengapa PKS tidak setuju dengan eksistensi perempuan sebagai pemimpin ditanyakan dalam wawancara di sebuah televisi, Hodayat Nur Wahid dengan santai mengatakan, “kalau masih ada lelaki, mengapa perempuan?”. Masyaallah, kalau semua orang PKS punya pendapat yang demikian, betapa tidak adilnya sikap PKS ini terhadap perempun yang memang punya kemampuan dalam memimpin,baik di politik, ekonomi, atau apapun juga. Ini sama dengan kita kaum perempuan dibawa ke jaman Jahiliyah, karena perempuan hanya akan dianggap sebagai konco wingking (teman di belakang), budak, pembantu dan pemuas nafsu.
    Wahai perempuan Indonesia inikah partai yang akan Anda dukung? Dari partai inikah kita akan memiliki pemimpin di negeri ini? Kalau jawaban kita “iya”, betapa bodohnya kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s