Putri Bukitinggi

Pada suatu tahun, hiduplah seorang putri, putri yang cantik namun tidak jelita.
Ia hidup sebatang kara di Puncak Bukitinggi, hanya ditemani oleh seorang makhluk yang bersifat ghaib (baca: makhluk ghaib) bernama Peterpan.
Warga Sumbar biasa memanggil putri itu ‘Pucagi’ (entah singkatan dari apa).

Kecantikan Pucagi dapat dengan mudah menaklukan begitu banyak pemuda Sumbar. Namun setiap pemuda yang mendekatinya pasti menjadi korban keganasannya akibat profesi Pucagi yang satu level di atas profesi Mbah Marijan-juru kunci Gunung Merapi.

Ntah bagaimana kronologis dan prosesi penumbalan para korban Pucagi ke Bukitinggi. Tetapi warga Sumbar pasrah karena mereka tahu bahwa ini memang menjadi Tupoksi Pucagi.

Suatu malam Pucagi pergi ke pasar di kota Padang. Ia sedang mencari korek api yang berbentuk bulat. Memang Pucagi suka melakukan keanehan-keanehan. Kemanapun Pucagi pergi, Peterpan menjadi penjaga setianya.

Warga Sumbar begitu ramah dengan Pucagi. Setiap insan yang berpapasan dengannya selalu menyapanya dan Pucagi membalas sapaan mereka dengan hangat.

Dalam waktu yang bersamaan, ada seorang Pemuda tampan-Kumbang Desa, yang sedang mencari selendang di pasar Padang. Selendang berwarna pink, entah untuk apa, entah untuk siapa.

Langit mulai mendung, titik-titik hujan mulai turun, dan warga pasar mulai berhamburan untuk menyelamatkan tubuh mereka dari air suci itu.

Saat Pucagi ikut dalam hiruk-pikuk misi penyelamatan diri, Pemuda itu tanpa sengaja menabrak tubuh mungilnya.
Pucagi yang notabene seorang putri tak kuasa menahan kontak fisik Pemuda itu dengan dirinya, Pucagi pun jatuh dan Pemuda itu pun tak mau kalah, ia ikut terjatuh.

Seperti di sinetron-sinetron, ketika mereka bertabrakan, terjatuh, mereka pun saling berpandangan (mereka tidak memperdulikan hujan yang membasahi tubuh mereka). Peterpan yang melihat kejadian itu, sangat bahagia sekali karena ia pikir Pucagi akan menemukan tumbal baru untuk Bukitinggi.

Tanpa sadar selendang pink yang dibeli oleh Pemuda itu, tiba-tiba dikenakan Pucagi dengan PD-nya. Pemuda itu bukannya malah terpesona/tidak berkedip melihat kecantikan Pucagi, justru Pemuda itu tidak berhenti berkedip, terus-menerus berkedip.

Pucagi menyadari keanehan tersebut dan tanpa pikir panjang dengan memakai selendang pink itu, Pucagi lari terbirit-birit bersama Peterpan.

Apa yang terjadi saudara-saudara?
Tunggu kelanjutan ceritanya…

2 thoughts on “Putri Bukitinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s