Malam 2010

Malam ini adalah malam kedua di tahun 2010. Malam yang sangat sepi, sepi sekali. Aku mencoba memusatkan pikiranku terhadap beberapa lembar kertas bertinta hitam yang dengan paksaan manusia disatukan. Kembali aku mengeluh: “Ah, sangat membosankan sekali.” Aku bosan berkomat-kamit sambil mengotori kertas-kertas yang tidak berdosa itu.

Kantuk pun belum menjemputku. Aku bergerak mengubah posisiku, memutuskan untuk berada di depan benda ajaib yang sangat berguna untuk menghilangkan kebosananku. Aku kembali menulis.

Aku tidak sendiri di ruangan yang hanya berukuran 3×3 m ini, sempit, dan agak sedikit pengap; Aku ditemani dengan lagu yang belakangan ini aku sering perdengarkan Because You Love Me – Celine Dion. Huh, ntah berapa kali aku telah mendengarkan lagu itu, tak bosan, belum bosan lebih tepatnya.

. . .

Sedikit pengalamanku akan kubagikan ketika aku akan menghabiskan malam terakhir di tahun 2009.

Aku mencoba mengajak abi (panggilan sayang untuk pacar ketujuhku, Angga Sekensend) untuk pergi ke Monas menyambut malam tahun baru. Pada mulanya, ia tampak tidak bersemangat dengan mengatakan alasan merayakan tahun baru adalah salah satu bid’ah. Klise sekali jawabannya tetapi akhirnya demi cinta, ia rela mengabulkan permintaanku.

Kami berangkat sekitar pukul 19.00, kami takut terjebak macet yang parah di sana. Sekitar 1,5 jam tibalah kami di Monas, mungkin ditambah 45 menit merayap di pinggir arena Monas karena mencari lahan parkir yang semestinya. Abiku sayang pun merasa sangat lelah karena harus menyeimbangkan kopling dan rem motornya, bahkan ia sempat menampakkan wajah bete yang membuatku jadi 100 kali lipat bete.

Suasana di Monas begitu ramai, tetapi itulah pertama kalinya aku merayakan tahun baru di Monas. Dan bagi abi, itulah pertama kalinya ia merayakan tahun baru bersama pacarnya (polos sekali pacarku yang satu ini).

Kami duduk di taman Monas, abi sempat menghabiskan bekal makan kami. Aku juga tidak terlalu lapar. Aku lebih suka makan mangga asam + garam cabai, hhe.

Setelah ia makan, kami mencoba mencari tempat yang lebih nyaman karena ada anak kecil (perempuan) yang meniup-niupkan terompet kecilnya ke arahku. Walaupun bentuknya kecil tetapi terompet itu sukses memekakkan telinagaku. Telingaku sangat risih dibuatnya. Alhasil, kami harus mencari tempat yang lebih nyaman.

Duduklah kami di tempat yang setidaknya jauh lebih nyaman. Hanya beralaskan sandal kami masing-masing. Walaupun rumput-rumput itu membuat kami agak gatal tetapi akhirnya kami bisa membuat diri kami nyaman.

Sejak pukul 21.00, langit di Monas sudah diwarnai dengan berbagai macam kembang api raksasa. Indahnya malam itu mengobati lelah abi. Yah, kami benar-benar menikamati pemandangan langit malam itu. Kami sangat senang, amat sangat senang.

. . .

Sesekali aku melihat ke arahnya, wajahnya benar-benar rupawan, aku senang sekali melihat wajahnya, apalagi ketika ia tersenyum, ditambah lagi ketika ia tersipuh malu. Kadang terbesit rasa bangga telah membuatnya jatuh hati kepadaku. Seseorang yang telah aku tahu sejak aku memasuki kampus tercinta ini, seseorang yang juga sempat menyita perhatianku, yah walaupun sedikit, hhe.

Terlintas di pikiranku, ia memang orang yang selama ini aku cari, orang yang menyayangiku dengan amat tulus, orang yang tidak akan pernah menyakatiku apalagi meninggalkanku, ia akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak.

. . .
Kami berada tepat di bawah kembang api raksasa yang saling bersahutan di tengah pergantian tahun itu. Kami sangat menikmati suasana kali itu. Sesekali ia mencium keningku. Betapa indahnya malam itu dan takkan pernah terlupakan.

. . .

Jam tanganku menunjukkan pukul 00.40, saatnya kami beranjak pulang.

. . .

Kami tidak pernah tahu apakah tahun depan kami bisa menghabiskan malam pergantian tahun bersama. Ia selalu mematahkan semua keraguanku, ia selalu meyakinkanku baginya hanya keyakinanlah yang dapat menghilangkan rasa takut.

Umi mau menghabiskan malam-malam berikutnya sama abi. Umi ga mau ini semua hanya terjadi satu atau dua kali.

Umi sayang banget sama abi.

Ooopppsss.. kalo yang pake ‘banget’ itu ga baik, (abi red. on)

Terima kasih sayangku, umi + abi = love

3 thoughts on “Malam 2010

  1. “Ooopppsss.. kalo yang pake ‘banget’ itu ga baik…..”

    quote diatas kyaknya bner…apalagi klo dua2 nya STAN…nanti penempatannya bisa2 indonesia barat & timur…..

    banyak godaan anak2 magang di kantor yg cakep2…hehe
    dll

    ups…buat siap-siap….bkannya buan nakutin…..peace🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s