Aku dan Valentine

Mengapa banyak sekali pasangan muda yang merayakan hari ini?

Sementara aku?

Pertama kalinya aku mendapat cokelat dari seorang pria adalah ketika aku duduk di bangku SMP kelas 2, aku mendapat cokelat Tobleront dari dirinya yang juga duduk di bangku yang sama, tetapi setelah hari esok aku segera menolak cintanya, huhh… alhasil ia yang notabene masih belia itu menganggapku ‘cewek matre’. Begitulah nasibku di hari berikutnya, dicap sebagai ‘cewek matre’ hanya karena menerima pemberian cokelat seharga lima ribuan. Malang ya? Sampai akhirnya aku lulus dari SMP itu gelar itu masih melekat padaku.

*****

Kata teman-temanku, aku yang sekarang adalah wanita yang cantik, sangat berbeda dengan aku yang dulu duduk di bangku SMP itu yang begitu culun dan kutu buku. Yah, mungkin itu yang membuat pria-pria di sekolahku dulu tidak begitu memperhatikanku. Dan melalui situs jejaring social Facebook, sampai-sampai mereka berkali-kali menanyakan kepadaku apakah aku juga salah satu bagian dari mereka saat sekolah menengah pertama itu, hanya untuk meyakinkan dirinya pernah ada seseorang yang seperti diriku di sekolahnya.

*****

Pada tahun berikutnya, aku tidak mendapatkan cokelat dari siapapun. Jujur saja aku sangat iri melihat teman-temanku yang menerima berbagai hadiah seperti bunga mawar pink, bunga mawar merah, boneka, cokelat apa pun jenisnya di waktu itu. Aku tetap saja berandai-andai akan hal itu. Tetapi ternyata hanya fatamorgana belaka.

tahun berikutnya,

berikutnya,

berikutnya lagi …

Selama aku duduk di bangku SMA ternyata nasibku jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Aku tidak pernah mendapat apapun dari siapapun saat hari Valentine itu. Sempat aku berpikir bahwa sepertinya aku akan menjadi wanita single seumur hidupku. Usia berpacaranku pun hanya seumur puasa sunah umat Islam, seumur puasa di bulan Ramadhan pun belum pernah aku jangkau

*****

STAN …

Di sinilah aku berkenalan dengan banyak pria, pria dengan berbagai karakter bentuk wajah dan keunikan sifat, yang membawaku pada suatu penilaian yang seragam yaitu mereka adalah pria. Iya, mereka memang pria, bukan wanita atau waria.

14 Februari 2008, aku memiliki seseorang yang selalu menemani waktuku katakanlah seorang pacar. Pacar yang begitu baik, bahkan amat baik. Ia memberikanku kejutan dan hadiah kecil yang begitu lucu di tanggal yang bersejarah itu.

Kalau tidak salah blackforest dengan bentuk hati diberikannya kepadaku dan miniature tapir bersayap dengan warna cream yang bisa berputar-putar.

Dialah orang yang pertama kalinya memperkenalkanku pelajaran dalam mencintai dan dicintai, dia pula orang yang menyadarkanku bahwa aku tidak perlu iri lagi dengan teman-temanku yang bahagia dengan pasangannya masing-masing, dia juga orang yang pertama kali membuatku mengerti apa yang disebut dengan cinta sejati.

Kami tidak memperdulikan apa yang orang katakan tentang Valentine itu, aku dan dia hanya sepasang insan yang sedang jatuh cinta. Dia yang selalu melakukan apapun untuk aku dan aku yang selalu meminta apapun dari dirinya. Aku sangat mencintainya, sangat mencintainya. Bahkan sampai akhirnya saat itu tiba, saat semua kata-kata cinta itu hanya sebuah isapan jempol.

*****

Tiba-tiba aku ingin memutar lagu-lagu sendu, tidak untuk mengenangnya, tidak untuk kembali menangis untuknya, tidak juga untuk meyakinkanku bahwa dia adalah cinta sejatiku.

14 Februari 2009, usia pacaran kami saat itu sekitar 14 bulan, angka yang begitu fantastik bagiku. Aku semakin mencintainya, semakin mencintainya, tetapi kini kami dipisahkan oleh jarak yang terbentang sekitar 500 km jauhnya, aku di Jakarta sementara ia di Surabaya.

Hubungan jarak jauh memang begitu menyiksa, aku tak tahu akan seperti ini jadinya.

Sebelum ia pergi ke tempat itu, aku mencoba untuk mengakhiri hubungan kami, karena aku yakin aku tak akan sanggup untuk menjalani semua ini. Tetapi aku ingat saat itu, saat di mana ia banyak meneteskan air mata, ia tak sanggup melepasku.

Dan aku begitu luluh melihat air matanya, aku tidak boleh memutuskan hubungan kami hanya sebatas kemauanku semata. Aku mencintainya, aku tak mau air mata itu mengalir lagi, aku harus segera menghapusnya, secepat aku bisa, aku harus menarik semua ucapanku, aku tidak boleh memutuskannya.

Februari itu memang indah, aku mendapat kiriman dari tempat itu, walaupun telat 3 hari. Aku menerima kiriman itu dengan sangat gembira, aku amat sangat gembira. Yah, ia mengirimi aku sebuah tas dengan motif strauberi, sangat lucu sekali.

Karena judul artikel ini “Valentine’s Day” aku tak akan meneruskan ceritaku mengenai bagaimana hubunganku dengan Si Pria ini.

Februari 2010, memang aku tak dapat lagi kisah-kisah itu. Aku juga tak dapat apapun dari siapapun, begitu juga dari pacarku yang sekarang.

Tetapi aku menyadari tidak hanya satu hal tetapi beberapa hal:

kebahagiaan itu tidak dapat diukur dari apa yang ia berikan kepadamu,

kebahagiaan tidak juga dapat diukur dari berapa banyak ia cucurkan air mata untukmu,

tetapi kebahagiaan itu ada karena kita mensyukuri apa yang kita punya sekarang.

Sekarang aku punya seseorang yang amat menyayangiku, aku pun juga sama. Aku sangat menyayanginya. Aku bahagia dengan apa yang dia dan aku miliki sekarang.

*****

6 thoughts on “Aku dan Valentine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s