Dinding Tua

menangislah ia sang wanita yang baru beranjak dewasa
menangis sejadi-jadinya
menangis tak henti-hentinya

ia tak kuat menahan semua bebannya
ia kecewa dengan semua yang terjadi kepadanya
ia tahu bahwa hidup sangat tak adil kepadanya
hidup terlalu menyayanginya
ia selalu saja dihadiahi dengan masalah

wanita itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur kayu
tempat tidur yang telah menemaninya selama masa sulit itu

wanita itu tetap meratap, menangis pasrah
ia merapatkan tubuhnya ke dinding tua di ruang itu
lebih merapatkan lagi hingga dinding itu pun ikut basah

wanita itu tak punya siapa-siapa
ia tahu tak ada tangan lembut yang akan menyeka air matanya
ia juga tahu tak ada pundak hangat yang tersedia untuknya

menangis, air mata
dinding tua itu yang menampung semua air matanya
dinding tua itu yang menjadi pundak hangat untuknya
dinding tua itu yang menjadi saksi bisu akan kerapuhan jiwanya

dinding tua . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s