Kami Bukan Gayus Tambunan

09:43 WIB.
Jurang Mangu Timur, 01 Mei 2010.


Mahasiswa dan mahasiswi yang lain sedang semangat-semangatnya untuk mengikuti tentir UTS Lab PPh Pot Put, sementara aku memilih untuk menghabiskan waktuku untuk tidur. Aku lebih memilih untuk menyalakan tabung ini dan menuangkan segala pemikiranku mengenai ketidaknyamanan yang aku dapatkan selama ini.

Belakangan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menjadi ‘artis’. Ya, bukan artis yang memiliki makna seniman yang sesungguhnya. Bukan artis yang kerap menebalkan mukanya dengan ‘kapur’ dan selalu percaya bahwa acting mereka sangat ‘natural’ di layar kaca.

DJP kerap muncul di layar kaca karena satu nama yang kebetulan memiliki korelasi dengan diriku, almamaterku, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Gayus Tambunan.

Kebetulan sekali, teman sekelasku di spealisasi Administrasi Perpajakan yang berdasarkan kertas pengumuman itu memiliki Indeks Prestasi tertinggi kebetulan bermarga sama dengannya (Tambunan). Ia kerap menjadi olok-olokan teman sekelas dan bahkan dosen sekali pun hanya karena marga yang sama.

Aku mencoba melihat kasus ini dari sisi yang berbeda dari mereka-mereka yang menggembor-gemborkan keburukannya, berbeda dari mereka-mereka yang kerap mencaci-maki tindakannya, bukan juga seperti teman-temanku yang seakan-akan benci sekali dengannya.

*****

Semenjak ia banyak diberitakan di layar kaca, kami mahasiswa-mahasiswi STAN banyak yang terkena dampaknya.

Krisis kepercayaan masyarakat kepada kami, terutama kami yang kebetulan memiliki spesialisasi yang sama dengannya, Administrasi Perpajakan.

Aku mendengar cerita bahwa ada teman di spesialisasi Akuntansi Pemerintahan (sex: female) yang hanya memakai jaket dengan label ‘Pajak STAN’ diteriaki ‘maling’ oleh seorang bapak di kereta api. Betapa mengenaskan sekali, untung saja ia tidak menjadi amukan masa akibat provokasi bapak itu.

Para kenek kopaja atau metromini yang melintasi Kantor Pusat DJP kerap ikut andil mengungkapkan kekecewaan mereka. Yang biasanya mereka berteriak “DJP …! DJP …! DJP …!” sekarang berubah menjadi, “Gayus…! Gayus…! Gayus…!” Betapa malunya para pegawai yang turun di depan Kantor Pusat DJP.

Dan aku pun juga ikut kena imbasnya. Kadang aku was-was ketika menunggu angkot di depan gerbang STAN, takut ada yang melempariku dengan tomat busuk, telur busuk atau batuan kerikil. Setiap kali aku bertemu dengan teman atau kerabatku, mereka kerap beropini seakan-akan mereka tahu apa, bagaimana, kapan, di mana, mengapa, atau apa pun itu tentang pegawai pajak. Kadang aku juga gondok mendengar ocehan mereka, ya tapi aku mencoba untuk mengambil sisi positifnya. Mungkin mereka tidak ingin aku seperti Gayus dan cara mereka mengungkapkan saja yang salah.

Di sini aku ingin kalian bisa mengerti

bagaimana sulitnya memperbaiki nama baik

itu.

Saat ada seorang supir kopaja yang tak sengaja menabrak mati seorang anak kecil yang berlari-lari di tengah jalan, masyarakat kerap mengamuk terhadap teman seprofesinya.

Apa saat ada salah satu anggota keluargamu membunuh, apa kalian mau dipersalahkan atas tindakannya? Apa kalian mau ikut dikatakan pembunuh? Apa kalian mau menanggung dosanya dengan ikut dijebloskan ke penjara? Aku yakin kalian tidak akan pernah mau.

Kami yang notabene adalah junior Gayus, tidak dapat dipersalahkan atas apa yang dilakukannya. Aku pribadi tidak pernah mencoba untuk berlagak yang paling benar untuk menghakiminya dengan segala ocehanku. Aku hanya berdoa untuk seniorku itu, semoga ia bertaubat dan segera bangkit untuk memperbaiki diri.

Di dunia ini tidak akan pernah kalian temukan hal yang sempurna. Sesungguhnya ketidaksempurnaan itu sendiri yang membuat suatu hal menjadi sempurna. Percayalah…

Mereka para petugas pajak, sudah mati-matian mengerjakan tugasnya. Pajak itu rumit, kawan! Aku pun mengakuinya, padahal sudah hampir 3 tahun aku mempelajarinya. Menjadi petugas pajak juga sulit, kawan! Kalian tidak akan mau memiliki resiko kanker otak hanya karena harus berada di depan komputer selama 9 jam non-stop tiap harinya hanya untuk mengurusi pajak-pajak Warga Negara yang bukan hanya 10 atau 20 orang. Ya, walaupun aku tidak memungkiri atas ketidaksempurnaan itu, ada juga petugas pajak yang melalaikan tugasnya.

Kalian pernah menonton 3 Idiots? Film Bollywood yang penuh sarat makna. Ya, mungkin sebagian besar orang menganggap bahwa endingnya terlalu memaksakan atau mengatakan bahwa tidak mungkin ada seseorang yang akan bernasib sama dengan cerita di film itu. Lagi-lagi aku tidak sepakat dengan kalian. Memang 3 Idiots adalah cerita fiktif belaka, lantas mengapa kalian harus mengumbar-ngumbarkan bahwa cerika itu tidak masuk akal? Apa semua cerita fiksi harus masuk akal? Dan hanya cerita nonfiksi yang boleh tidak masuk akal? Kawan, banyak hal yang tidak masuk akal di dunia ini, mungkin saja di suatu sudut kehidupan ada seseorang yang memiliki cerita kehidupan yang seperti itu.

Mengapa aku sedikit menyinggung mengenai film 3 Idiots? Ya, aku sedikit berpikir bahwa film itu membuka mataku akan banyak hal. Aku ingat bahwa jika kamu mencintai Matematika, menikahlah dengan Matematika, jika kamu mencintai Biologi menikahlah dengan Biologi. Saat kamu menikahi yang lain padahal kamu tidak mencintainya, kamu akan banyak menyia-nyiakannya dan akhirnya kehidupanmu tak akan bahagia.

Aku tidak pernah mencintai pajak dan aku tidak pernah mengerti pajak. Aku sangat mencintai lingkungan dan menulis. Mungkin selamanya aku juga tidak bahagia. Kecuali satu hal, aku mencoba mencintai pajak dan berhasil mencintainya. Aku belum bisa berhasil mencintai pajak. Mungkin hal itu yang kerap menghinggapi anak-anak STAN, mereka punya cintanya masing-masing, mungkin psikologi, teknik listrik, sastra Jepang, atau ilmu komputer. Tetapi karena harus berbakti kepada orang tua, kami dengan berat hati harus menikah dengan pajak ini. Sementara para orang tua hanya berorientasi kepada hasil akhir, jaminan pekerjaan.

Di sisi lain banyak sekali anak-anak STAN yang cerdas tetapi sayang keadaan ekonomi keluarga tidak dapat menopangnya untuk menikahi perguruan tinggi lain yang dapat mempertemukan mereka dengan cintanya. Kembali lagi, kami merupakan korban keadaan yang harus mensyukuri keadaan ini.

Mungkin itu juga yang terjadi dengan Gayus di masa silam, alhasil ia hanya memanfaatkan profesinya untuk menebus semua pengorbannya di masa silam.

Andai pemerintah juga membuka perguruan tinggi gratis seperti STAN tetapi dengan berbagai jurusan. Aku yakin putera-puteri di negara ini akan benar-benar berusaha untuk menjadi putera-puteri terbaik bangsa.

Satu hal, kami akan berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan orang-orang yang kami cintai. Kami bukan Gayus.

*****

8 thoughts on “Kami Bukan Gayus Tambunan

  1. well said des😀

    penyakit orang kita adalah generalisasi, belum bisa menerima individu sebagai individu, tiap individu adalah cerminan kelompok. semoga nanti setelah generasi kita lebih banyak orang berpikir terbuka.

  2. gw salah satu orang yang menikah karena terpaksa dengan STAN Akuntansi. Tapi ya memang harus gw syukuri sekarang. Kalo emang bisa, ntar gw mau poligamin sama yang gw cintai. STAN buat gw hanya batu loncatan saja.

    Keren tulisannya sai..d^_^b

    • We’re same.. dan bukan kita aja.. bakat dan minat kita harus terkubur sementara waktu.. >.< Tapi gw mau bangkitin lagi setelah semua ini selesai. (setelah semua sudah di tangan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s