Kamu Hanya Seorang Pecundang

Hari ini aku mendapat suatu kejutan dari seseorang, seseorang yang ternyata telah banyak mengambil ruang kosong dari hatiku, seseorang yang ternyata telah banyak mengambil mimpi-mimpiku, seseorang yang ternyata pernah mengajariku satu kata yang sampai sekarang aku pun tak pernah mengerti arti yang sesungguhnya dari kata itu, seseorang yang ternyata pernah menjadi alunan nafasku, seseorang yang juga menjadi satu-satunya orang yang pernah memberikan penderitaan terdalam dalam hidupku.

Hari Idul Fitri adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Muslim, hari dimana kita semua bisa mengucapkan kata-kata maaf yang akan menghapus semua dosa-dosa yang pernah kita lakukan kepadanya, menghapus semua luka yang telah kita torehkan kepadanya, semua khilaf yang tanpa sadar membuat lubang di hatinya.

Tapi kata maaf yang akan kuberikan bukan sekadar maaf biasa.

Aku akan memberikan kata maafku, yang benar-benar aku berikan dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku akan memberikan maafku kepada orang yang benar-benar aku bisa maafkan setulus hatiku yang terdalam, yang juga akan aku berikan kepada orang-orang yang takkan pernah lagi aku ingat bagaimana perilaku buruk mereka…

Aku akan benar-benar memberikan maafku untuknya.

***

20.40 :: Friday, Sept 10 2010

Seseorang meminta maaf kepadaku kemudian tanpa banyak basa-basi aku meresponnya dengan mengatakan, “Aku telah maafkanmu”. Padahal kesalahnnya itu terus mengiang-ngiang di kepalaku dan selalu seperti itu setiap waktu, bagaikan rel kereta api yang kadang memuai dan kadang menyusut, tergantung seberapa panas yang diterimanya.

Apabila aku melakukan itu, bukankah aku hanya seorang muslim yang munafik? Yang memiliki hati dan ucapan yang tidak sejalan, yang hanya menentramkan jiwa sang peminta maaf, yang hanya mau dianggap sebagai orang yang selalu bermurah hati untuk memaafkan…

Aku hanya ingin mencoba jujur kepada diriku sendiri, mencoba untuk tidak membohongi siapa pun, mencoba untuk menjadi dirku sendiri, dan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kalaupun dia membaca tulisan ini, aku sangat bersyukur. Aku harap tidak lagi ada wanita yng dibuatnya sampai sejatuh ini, tidak lagi ada wanita yang selalu membenci seseorang dalam hidupnya, tidak lagi ada seseorang wanita yang dibuang begitu saja olehnya tanpa mau tahu lagi tentang kehidupannya.

Dia hanya seorang pecundang, dan seorang pecundang akan selalu menjadi seorang pecundang. Pecundang yang hanya bisa meraung di bawah ketiak ibunya, seorang pecundang yang tak pernah sadar harga dirinya begitu rendah, seorang pecundang hanya akan mendapatkan sampah dalam hidupnya.

Aku hanya bisa mengatakan satu hal, aku belum bisa memaafkannya, aku belum bisa menerima semua perlakuan buruknya terhadapku, aku belum bisa, belum bisa menerima kenyataan bahwa aku telah hancur lebur karena kehilangannya.

Yah,

Hancur lebur…

Hancur lebur…

Aku hancur dan selalu merasa dia mengkhianati satu kata yang selalu diajarkannya kepadaku…

C I N T A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s