Pucagi (lanjutan)

Aku pernah janji dengan seseorang akan meneruskan kisah Putri Bukitinggi, yah sekarang aku sudah punya ending akan kisah itu.
***
Saat bertemu dengan Pemuda itu, Pucagi mengedipkan matanya berkali-kali tetapi ntah kenap Pemuda itu justru takut dan lari terbirit-birit. Pemuda iru pun tidak sadar, selendang Pucagi tersangkut di lengannya dan selendang pink itu berkibar-kibar saat Pemuda itu lari terbirit-birit.
Aneh memang, padahal semua pria sangat terpesona dengan paras cantik Pucagi. Kulitnya putih, rambutnya hitam berkilau, senyumnya membuat kaum adam lemas…

Sementara Pemuda itu lari???
Pucagi pun terkaget-kaget dibuatnya. Ditambah dengan selendang kesayangannya tak sengaja terbawa olehnya. Yah, itulah kehidupan, memang kadang sullit dijelaskan. Dan satu hal, cantik itu relatif, hha…

Pucagi bersama jin pengikutnya mencari pemuda itu kemana-mana. Tapi saysng Pemuda itu sulit ditemukan. Ow, ow, ow… Kemana kah dirinya?
. . . .
Pucagi merenung, merasa kehilangan dengan selendangnya. Ia mengambil sebuah kotak yang biasa ia gunakan untuk menyimpan barang-barang berharga miliknya, ia membukanya, dan menatap ke dalam isinya, hanya ada sebuah pedang tajam.

Ia teringat pada saat ibunya memberikan pedang itu kepadanya, “Pucagi, jagalah pedang ini, pedang ini akan menyelamatkan orang kau cintai kelak.”

Dua minggu kemudian, jin pengikut Pucagi melaporkan keberadaan Pemuda itu.

Awalnya Pucagi mengira Pemuda itu merupakan pangeran dari suatu kerajaan. Paras Pemuda itu begitu rupawan, saat melihat wajahnya ia merasakan kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Yah, tak pernah ada yang bisa membuat Pucagi terperangah saat melihat seorang pria, tapi Pemuda itu benar-benar membuat dia selalu bercermin,

Pucagi jatuh cinta.

Pucagi menuju kediaman Pemuda itu, dengan menghabiskan waktu berjam-jam untuk memoles wajahnya. Betapa cantiknya Pucagi hari itu.

Sesampainya di Desa Solok tepat di depan gubuk Pemuda itu berdiam, Pucagi melihat ada dua anak kecil perempuan yang sedang berlarian, yang satu memakai selendang pinknya dan yang satu mencoba untuk merebut selendang itu. Betapa lucunya anak-anak itu, Pucagi tak semakin tak sabar untuk bertemu dengan kakak mereka.
Ia menemui kedua anak-anak yang sedang berlarian itu, sehingga anak yang satu menghentikan pengejarannya.

“Adik, kakak kalian ada di rumah?”

“Ada! (dengan semangat menjawab Pucagi)”
(Bergegas memasuki gubuk mereka)

“Kak Ruli, Kak Ruly, ada yang mencari kakak di luar.”

”Cantiiiiiik sekali!!!!” Anak kecil yang satu ini nampaknya begitu menyukai Pucagi.

“Iya kah? Wah, Kakak merasa tersanjung sekali kalau begitu. Sebentar ya Kakak temui dulu tamu Kakak. Kalian tetap di sini ya.”

Pemuda itu merapihkan rambutnya kemudian bergegas menuju halaman depan.

Ia melihat punggung Pucagi, kemudian, “Ehm, (mencoba menarik perhatian Pucagi) maaf Uni mencari saya?”
Pemuda itu mendekati Pucagi, Pucagi segera mebalikan badan.

Seketika waktu serasa terhentikan, bumi seakan-akan berhenti berputar, dan detak jantung kedua dari mereka berdetak dengan amat cepat.
Pemuda itu ternyata hidup dengan serba keterbatasan, ia memiliki banyak adik dan ia sendiri sudah tak punya orang tua, ia harus menjadi ayah, ibu, sekaligus kakak untuk keempat adiknya. Pantas saja pada waktu itu ia lari terpingkal-pingkal saat berpapasan dengan Pucagi yang nyata-nyata hanya dapat membuat pria terlena, ia harus segera member adiknya yang pada waktu itu terkena malaria.

Ruli mempersilakan Pucagi masuk ke gubugnya, ia sebenarnya malu mempersilakan Pucagi yang begitu cantik ke dalam gubug reot yang serba keterbatasan. Tetapi tamu tetaplah seorang tamu, ia memperlakukan Pucagi dengan sangat sopan.

“Maaf, nama saya Pucagi, maksud kedatangan Saya adalah Saya ingin mengambil kembali selendang itu.” (sambil menunjuk ke selendang pink yang dikenakan oleh salah satu adik Ruli)
Ruli mengulurkan tangannya untuk mengajak Pucagi berjabat tangan, dengan suara yang sedikit bergetar, Ruli menyebutkan namanya, “Saya Ruli, Uni Pucagi.”

Mereka sedikit banyak mulai berbincang tentang berbagai hal yang mereka sukai. Suasana mulai mencair. Tetapi jin pengikut Pucagi mulai gundah dan segera membisikkan perintah untuk segera pulang ke Bukitinggi.

Pucagi segera pamit dan mendapatkan selendangnya kembali.
Di perjalanan, jin pengikut Pucagi semakin resah, ia meminta Pucagi untuk menjadikan Ruli sebagai tumbal Bukitinggi berikutnya. Bagi jin pengikut, Ruli adalah seorang yang memenuhi syarat sebagai tumbal, ia hampir menjadi seorang manusia sempurna. Pucagi bingung, ia tidak mau kehidupannya hanya seperti ini, mengorbankan nyawa para warga lelaki untuk penunggu Bukitinggi, kadang ia merasa betapa tidak adilnya hidup ini, mengapa harus dirinya yang dijadikan juru kunci Bukitinggi, saat tak ada korban justru bencana besar datang menghampiri seluruh Bukitinggi.

Pucagi semakin didesak oleh jin pengikutnya tapi bukan kepalang, Pucagi sangat mencintai Ruli.

Ia menangis meronta-ronta, tapi tak ada yang dapat ia lakukan. Ia tidak mau membunuh Ruli yang sangat ia cintai, berbeda dengan apa yang telah ia lakukan kepada pria-pria sebelumnya.

Pucagi mengambil pedang dari kotak itu, dan berlari menuju Ruli.
Ruli terkejut melihat Pucagi berlari kepadanya sembari membawa pedang yang begitu tajam.

“Maafkan aku, Ruli… Aku benar-benar mencintaimu.”

Pucagi menebaskan pedangnya,

Ia menebaskan pedangnya ke arah kemaluan Ruli,

Pucagi menghilang…

Ruli jatuh terkulai, ia tak berdaya. Adik-adiknya berlarian menghampirinya.

Ruli terbebas menjadi seorang tumbal dan masih tetap hidup dengan kondisi tubuh yang cacat.
Sementara Pucagi tetap menjadi seorang Pucagi.

2 thoughts on “Pucagi (lanjutan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s