Petikan Ilmu dari Sepanjang Jalan Kenangan ke Ancol

Sudah lama juga, aku tidak mengisi blogku tercinta dengan tulisanku. Belakangan aku hanya membrowsing artikel yang sekiranya aku suka dan mengopi serta menempelnya di tulisan baru.

Hari ini aku ingin sedikit bercerita tentang pengalamanku pergi ke Taman Impian Jaya Ancol bersama pacarku tercinta.

Kalau tidak salah ingat, kami pergi ke sana hari Selasa, tanggal 3 November 2010, berangkat dari rumahku di Setu Babakan, Jakarta Selatan sekitar pukul 10.30 pagi.

Aku mempersiapkan bekal yang akan dimakan di sana, aku memenuhi tempat makan dengan nasi putih beserta rendang Padang. Kami juga kebetulan tidak bawa air minum, karena tidak ada tempat air minum di rumahku. Menyimpan botol plastik bekas air mineral pun tidak baik, karena botol plastik air mineral hanya boleh digunakan sekalai, berikutnya apabila dipaksa kita pakai akan mengancam diri kita dengan penyakit yang berbahaya dan mematikan alias kanker.

Perjalanan menuju Ancol dari rumahku sepertinya cukup mudah kalau aku perhatikan dari peta jalur busway yang aku punya. Ditambah lagi pacarku yang begitu buta dengan jalan di Jakarta, tentunya hanya aku yang diandalkan sebagai petunjuk jalannya. Kadang hal ini membuautku takut, aku takut menunjukkan jalan yang salah dan mengakibatkan kami tersesat, tapi setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya aku mulai menghafal jalan yang ada di Jakarta, karena aku lahir dan besar di sini. Sudah hampir 21 tahun aku merasakan indahnya ibukota ini, inilah saatnya aku lebih mengenal kota Jakarta.

Aku harus mengenakan kacamata dengan lensa setebal kaca jendela rumahku, ya tentu saja minusku melebihi 5, mengerikan. Aku harus berusaha menatap papan jalan dengan seksama, ingat menatap bukan melihat.

“Ada kalanya kita sering melihat sesuatu tapi kita tidak sadar akan hal itu, karena kita tidak benar-benar melihatnya (menatap).”

Pertama-tama hal yang paling berkesan adalah saat kami melewati Jalan Raya Pasar Minggu, tak pernah aku membayangkan Jakarta di saat pukul 11 pun macetnya bukan main, ditambah lagi terik matahari yang terus menempel pada kami. Aku mencoba memperhatikan keadaan sekeliling di sini, ada banyak yang bisa aku pelajari dari sini. Para penjual kudapan asongan (seperti rokok, permen, mangga muda, anggur, jeruk bali yang dipilah menjadi bagian kecil) tempat seperti lampu merah TMP Kalibata adalah lahan pekerjaan mereka. Betapa beruntungnya kita bisa hidup jau lebih baik dari mereka. Aku juga memperhatikan betapa bersabarnya mereka menyinggapi satu per satu kopaja untuk menjajakan dagangan mereka.

“Sungguh ironis sekali kalau kita hanya memaki-maki keadaan di saat macet atau sekadar mengeluhkan kemacetan Jakarta.”

Jalan berikutnya yang membawa kesan adalah saat kami melewati Pasar Jatinegara. DI sini semua kendaraan terlihat seperti antrian pengambilan sembako yang tak pernah kunjung habis. Ya Tuhan, betapa teriknya matahari saat di atas kepala kami. Apa yang akan terjadi saat kami berada di Padang Mashyar dan matahari hanya sejengkal dia atas kepala kami? Bukan main, kami sangat menikmati polusi dan panas serta kemacetan sebagai penguji kesabaran. Jalur busway yang diprogramkan akan mengurangi kemacetan justru hanya membuat para pengguna jalan lebih bayak lagi melanggar rambu lalu lintas. Kopaja, taksi, bahkan mobil pribadi menerobos jalur busway karena terlampau penat dengan ujian kesabaran itu. Apa yang salah dengan fasilitas ini? Apa pemda DKI Jakarta sudah memikirkan masak-masak saat menjalankan program ini? Hanya Tuhan yang tahu…..

Pemandangan kemacetan kami rasakan hingga Mangga Dua. Oh Tuhan, inilah yang terjadi selama ini di Jakarta, dan aku baru menydari belakangan ini? Selama ini aku hanya beruntung, tinggal di Jakarta pinggiran yang masih asri jauh dari polusi.

Sekitar 2 jam akhirnya kami sampai di Ancol, kami terkejut dengan perubahan yang terjadi dengan pergelangan tangan pacarku. Pergelangan tangannya menghitam, sangat menghitam. Sementara aku juga tapi tidak sehitam dia.

Aku jadi punya tips untuk para bule yang ingin menghitamkan badannya. Mereka tidak perlu lagi harus bertelanjang di pantai Kute Bali berjemur matahari selama berhari-hari (dengan resiko adanya teroris di sana-sini yang siap siaga mengebom mereka), mereka cukup berkendara motor dari Jakarta Selatan-Jakarta Utara tanpa mengenakan busana. Hahaha …

Dan saat kami pulang pukul 17.00, kami juga dihadapkan dengan ujian yang sama, bahkan kami pun ikut menerobos jalur busway seperti yang lain, hahaha…

“Hidup itu harus berwarna, jangan hanya hitam putih saja.”

2 thoughts on “Petikan Ilmu dari Sepanjang Jalan Kenangan ke Ancol

  1. Tips yang bagus itu mas untuk para bule-bule, akan tetapi mereka sangat menikmati sekali saat dipantai-pantai bali, mungkin pemandangan yang bagus karena bali wisata yang bagus sekali. Sebuah pengalaman perjalanan yang penuh dengan kemacetan dan panas pula membuat jenuh dan kesal ya mas? Salam kenal🙂

    • Iya betul…
      Sayangnya, saya belum pernah ke Bali jadi tidak bisa membayangkan dg nyata bagaimana suasana di sana.

      Wah maaf saya bukan mas-mas tapi embak-embak, hhe…
      Whatever, salam kenal juga. Nice to know u.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s